KEHANCURAN SANG DEWI
Aku hanya kenangan suram yang pernah mengotori sebuah ruangan dengan debu – debu kepedihan terhempas dalam badai ketragisan , tersenyum dalam kepedihan, menangis dalam keheningan , dan hancur dalam ketidak pastian. di ujung pengharapan yang tak sepadan dengan perjuanganku, masih sempat – sempatnya aku mengharapkan secawan cinta pada seorang pangeran yang terlalu nista, dan penuh dusta untuk ku percaya. dan betapa munafiknya aku membohongi jantung kaca yang rapuh ini dengan sejuta mimpi yang akhirnya menghancurkan sayap -sayap yang telah remuk ini, dengan duri – duri kepedihan yang menikam dan menyakitkan. setelah jantung kaca ini meneteskan darah kepedihan, baru ku sadari betapa kejinya perasaan pangeran yang ku banggakan, dan betapa mudahnya aku dibutakan oleh madu – madu kebahagiaan yang merusak kemurnian akan secawan cinta pangeran. dan akhir dari semuanya, aku hancur dengan diriku sendiri, terperosok dalam cahaya gelap, yang entah ku tak tau akhirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar